Senin, 15 Maret 2010

Tak Kenal Maka Tak Sayang (dari jazz ke japanese culture)

Pepatah ini bener banget! Udah sering kejadian di hidup gw, di mana gw menjilat ludah gw sendiri. Masih segar di ingatan gw, gimana gw dulu bersikap 'commentish' alias suka ngomentarin dan mencela abis-abisan apa yang gw anggep aneh, jelek, ataupun berlawanan dengan selera gw. Padahal setelah gw bergaul lebih lama dan mengenal lebih dekat hal itu, gw jadi bisa menghargai hal itu, dan malah untuk beberapa hal jadi suka banget dan ketagihan. Ini beberapa contohnya (cuman 2 doang sih sebenernya):

PERTAMA. JAZZ. Dari gw pertama kali ngeband sampe lulus SMA, gw dulu sebel banget sama Jazz, dan entah mengapa kalo denger jazz gw jadi misuh-misuh ga jelas. Alasannya sederhana, manurut gw dulu, jazz itu cuman jadi ajang pamer skill, dan ga mementingkan harmonisasi sama sekali. Di setiap lagu jazz kan pasti ada solo instrumen tuh. Nah, ga jarang dari solo instrumen itu nada yang dimainin keluar dari nada dasarnya dan dimainin seenak hati pemain alat musiknya. Makanya menurut gw dulu jazz itu cuman jadi ajang show off skill pemainnya doang.

Tapiii, sejak gw masuk kuliah dan membentuk band kawinan, gw jadi harus dengerin lagu-lagu jazz buat referensi, karena request lagu-lagu buat kawinan kebanyakan lagu jazz. Nah, ternyata, setelah makin lama gw denger-dengerin itu lagu jazz macamnya michael buble (walaupun masih masuk jazz pop juga sih. hehe), stevie wonder, susan wong, dan lain sebagainya, gw jadi suka banget dan addicted sama jazz. Menurut gw sekarang, lewat jazz kita tuh bisa nuangin semua passion bermusik kita ke dalam lagi.

Terus, dari pandangan gw sebagai yang suka nyanyi, lagu jazz yang menantang itu merupakan suatu tantangan buat ditaklukkan. Hahaha.. Secara lagu-lagu jazz ga kaya lagu2 Indonesia jaman sekarang yang cuman pake 3 kunci doang C-G-F (haha.. ga gitu juga kali ya). Pokonya, makin susah lagunya, makin penasaran buat bisa menaklukkan lagu itu sampe gw bisa dapet semua nadanya. Bahkan boleh dikata 1/3 dari file lagu di laptop gw adalah lagu-lagu jazz, walaupun sampai sekarang gw belom bisa menikmati jazz yang pure jazz banget sih. Hehe.. Yah palingan bossas, swing, dan jenis-jenis jazz ringan lainnya.

KEDUA adalah mengenai JAPANESE CULTURE. Masih inget banget gw gimana gw dulu mencela-cela orang-orang yang belajar kebudayaan Jepang di sebuah klub di ITB (*sumpah bukan UKJ. Hahaha). Menurut gw dulu tuh mereka adalah orang-orang freak karena saking ngefans segitunya banget sama Jepang sampai-sampai mereka niru cara berpakaiannya, hapal semua artis-artisnya, dan yang menurut gw paling aneh dulu adalah mereka bikin jaket sama dengan jenis jubah yang ada di salah satu serial komik. Gw juga suka banget baca komik, bahkan dulu ga bisa tidur sebelum baca komik (*FYI, komik kesukaan gw adalah Harlem Beat, Samurai X, Offside, Conan, Naruto *yang udah ga begitu menarik sekarang, dan, the greatest of them all, One Piece), tapi tetep aja gw nganggep aneh orang-orang yang gw pikir menjadikan komik sebagai panutan hidupnya. (nih gw kasih gambar One Piece sebagai bonus. Hahaha.. Apa coba..)



Ternyata? Sekarang gw ditempatkan oleh Tuhan di Jepang. Setelah gw menetap di sini 6 bulan, gw mulai bisa mengerti dan memahami kebudayaan mereka di sini. Gaya berpakaian orang Jepang yang dulu gw hina-hina abis juga sekarang sudah mulai gw hargai. Mereka emang tahunya yang keren ya begitu itu, dan ternyata ga semuanya jelek juga kok. Mungkin mereka kalo ke Indonesia juga mikir "ini orang Indonesia kok ga gaul abis ya? Kampung semua gini gayanya". Hahahaha.. Semoga ga kaya gitu ya. Gw sekarang malah nyesel kenapa gw ga belajar bahasa jepang dan kanji lebih awal, sehingga gw bisa menjalani kehidupan dengan lebih mudah di sini.

Selain itu, dari pergaulan gw dengan orang-orang di sini, sedikit banyak gw mulai belajar tentang kebudayaan mereka. Gimana mereka belajar, gimana mereka bekerja, gimana mereka bergaul dan sebagainya. Dari situ, mata gw mulai terbuka. Yang dulu gw cela-cela banget ternyata ga segitu jeleknya ko. Malah rasa kagum gw sama orang Jepang mulai tumbuh juga walaupun memang ada hal-hal yang kurang baik dari orang sini. Yah, namanya juga hal yang ada di dunia, pasti semuanya punya cacat dan cela. Contohnya gw, walaupun gw galak, tapi sebenernya baik hati loh. Hahaha..

Dari situ gw belajar sesuatu untuk tidak mencela sesuatu sampe gw kenal betul hal tersebut. Mungkin selama ini gw belum menerapkan apa yang dulu gw dapet di Self Insight and Awareness Training (Siaware), yaitu mencoba untuk melihat segala sesuatu dari banyak sudut pandang. Mudah-mudahan ke depannya gw mau berusaha untuk mengenal lebih dekat segala sesuatu dulu sebelum mencela hal tersebut, dan akhirnya membentuk gw menjadi pribadi yang lebih baik.

Amin.

*Walaupun tulisan ini tentang pengalaman gw, gw harap bisa berguna buat temen-temen sekalian yang udah mau membaca blog gw yang tak seberapa ini. :)

* Pictures taken from:

5 komentar:

  1. iya sef,setuju bgt,kita jgn mencela dulu sblm kenal bgt ama sesuatu,thank you josef for sharing :) Btw,baca cerita lo,gw ngerasain kyk lo lg cerita ke gw,josef bgt lah,hehehe.

    BalasHapus
  2. ah bang boong nih.

    Masih ingat ngga Teroris cinta yang ingin bawa lagu "The Groove - Khayalan"? Saya ikut jadi additional keyboardnya. Tapi tidak jadi tampil di LAvatory (bazaar SMAN3) karena bang Beki ada kuliah di hari-H nya.

    The Groove itu kan aliran ACID JAZZ bang :D

    Biarpun terdengar tidak serumit Traditional Jazz, tapi tetap saja progresi chord nya tidak biasa. Ada Minor 9, Major 9, Dominant 13, dan Diminish 7.

    Tapi memang sih saat itu bang sudah masuk kuliah, hahaha :D

    Peace bang!

    BalasHapus
  3. @wulan : cant help it lan. hahaha..
    @ mikha: wah, kalo lagu khayalan itu menurut gw masih pop karena ga ada solo instrumen yang ke mana2 mik. hahaha. maap deh kalo salah.

    BalasHapus
  4. iiihh..josef dulu menghina-dina salah satu unit di ITB *yang berhubungan dengan budaya Jepang*, trus ujung2nya dikirim ke Jepang...

    berarti kalo gw menghina-dina salah satu unit di ITB *yang berhubungan dengan budaya Batak* (peace out, iyet!!), tar jangan2 gw dikirim balik ke kampung halaman lagi...aarrrghhh..nooooo wayy!!!

    BalasHapus
  5. Sesungguhnya, semua ini telah kuperhatikan, semua ini telah kuperiksa, yakni bahwa orang-orang yang benar dan orang-orang yang berhikmat dan perbuatan-perbuatan mereka, baik kasih maupun kebencian, ada di tangan Allah; manusia tidak mengetahui apapun yang dihadapinya.
    Segala sesuatu sama bagi sekalian; nasib orang sama: baik orang yang benar maupun orang yang fasik, orang yang baik maupun orang yang jahat, orang yang tahir maupun orang yang najis, orang yang mempersembahkan korban maupun yang tidak mempersembahkan korban. Sebagaimana orang yang baik, begitu pula orang yang berdosa; sebagaimana orang yang bersumpah, begitu pula orang yang takut untuk bersumpah.
    Inilah yang celaka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari; nasib semua orang sama. Hati anak-anak manusiapun penuh dengan kejahatan, dan kebebalan ada dalam hati mereka seumur hidup, dan kemudian mereka menuju alam orang mati.

    Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati.
    Karena orang-orang yang hidup tahu bahwa mereka akan mati, tetapi orang yang mati tak tahu apa-apa, tak ada upah lagi bagi mereka, bahkan kenangan kepada mereka sudah lenyap.
    Baik kasih mereka, maupun kebencian dan kecemburuan mereka sudah lama hilang, dan untuk selama-lamanya tak ada lagi bahagian mereka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari.
    Mari, makanlah rotimu dengan sukaria, dan minumlah anggurmu dengan hati yang senang, karena Allah sudah lama berkenan akan perbuatanmu.
    Biarlah selalu putih pakaianmu dan jangan tidak ada minyak di atas kepalamu.
    Nikmatilah hidup dengan isteri yang kaukasihi seumur hidupmu yang sia-sia, yang dikaruniakan TUHAN kepadamu di bawah matahari, karena itulah bahagianmu dalam hidup dan dalam usaha yang engkau lakukan dengan jerih payah di bawah matahari.
    Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.
    Lagi aku melihat di bawah matahari bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat, dan keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat, juga roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas, dan karunia bukan untuk yang cerdik cendekia, karena waktu dan nasib dialami mereka semua.
    Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba.

    BalasHapus